Penyanyi dan dokter, Tompi, memberikan komentar tajam mengenai pengelolaan royalti di Indonesia. Beliau menyoroti lambatnya perubahan dalam kesejahteraan musisi yang terus menjadi perbincangan namun tak kunjung membuahkan hasil.
Banyak musisi berharap dapat hidup sejahtera dari hasil karya mereka. Namun, Tompi menggarisbawahi bahwa permasalahan kesejahteraan ini sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan sendiri.
Menggali Masalah Royalti di Indonesia
Isu royalti di industri musik Indonesia bukanlah hal baru. Sejak beberapa tahun lalu, banyak musisi mengeluhkan sistem yang ada, menginginkan sistem yang lebih adil dan transparan. Data menunjukkan bahwa tingkat royalti yang diterima oleh musisi sangat rendah dibandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan dari karya mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ada ketidakseimbangan yang perlu diselesaikan.
Musisi sering kali berjuang keras untuk menciptakan karya yang berkualitas, tetapi ketika sampai pada proses distribusi royalti, banyak dari mereka merasa dirugikan. Dalam konteks ini, Tompi mengingatkan pentingnya transparansi dan keadilan dalam pengelolaan royalti, agar semua pihak—baik musisi, produser, maupun pengelola—dapat merasakan manfaat yang lebih seimbang.
Harapan dan Solusi untuk Kesejahteraan Musisi
Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah penerapan sistem pengelolaan royalti yang lebih efisien dan transparan. Ini bisa melibatkan pembentukan badan independen yang bertugas mengawasi distribusi royalti secara adil. Musisi perlu memiliki suara dalam pembuatan kebijakan yang memengaruhi pendapatan mereka, sehingga mereka dapat secara aktif terlibat dalam perubahan yang diinginkan.
Dengan demikian, diharapkan masalah royalti tidak lagi menjadi isu yang berulang setiap tahun. Diperlukan konsensus dan kerjasama antara semua pihak dalam industri musik untuk menciptakan lingkungan yang lebih menguntungkan bagi musisi. Pembicaraan yang lebih terbuka dan dialog yang konstruktif sangat penting untuk mencapai tujuan tersebut.