loading…
Negara-negara adikuasa berlomba bangun PLTN di Bulan. Foto/X/@LMSpace
Seiring dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya ketergantungan pada energi bersih, Bulan menawarkan sumber daya yang belum dimanfaatkan. Namun, kondisi di Bulan bisa sangat ekstrem—gravitasi yang lemah dan periode malam yang berkepanjangan membuat energi konvensional seperti panel surya menjadi kurang efektif. Di situlah ide tentang penggunaan tenaga nuklir muncul sebagai solusi yang menarik.
5 Alasan Negara-negara Adikuasa Berlomba Bangun PLTN di Bulan, Salah Satu Siap Hadapi Perang Antariksa
1. Panel Surya Tak Efektif di Bulan
Pembangkitan energi menggunakan panel surya di Bulan tidak dapat diandalkan, terutama ketika malam panjang berlangsung selama dua minggu. Baterai yang digunakan pun memiliki batas waktu operasional yang sangat terbatas. Hal ini membawa kita pada satu kesimpulan bahwa untuk memastikan keberlanjutan operasional di Bulan, solusi tenaga nuklir menjadi pilihan yang paling bijaksana.
PLTN di Bulan bisa beroperasi melalui reaksi fisi, yang memecah atom berat menjadi lebih kecil, atau melalui reaksi fusi, yang menggabungkan atom kecil untuk melepaskan energi besar. Dengan cara ini, negara-negara yang bersaing dapat menciptakan sumber energi yang berkelanjutan, sangat vital untuk mendukung misi mereka di masa depan.
2. Berkait dengan Misi Antarplanet dan Pangkalan Bulan
Menurut Mark J Sundahl, direktur Global Space Law Center, reaktor nuklir memiliki potensi untuk mendukung misi antarplanet dan pangkalan di Bulan. Namun, perkembangan ini juga menuntut adanya pemahaman hukum dan geopolitik yang mendalam.
Perjanjian Luar Angkasa 1967 melarang klaim kepemilikan atas Bulan dan benda langit lainnya. Kendati demikian, perjanjian ini tidak melarang pembangunan fasilitas seperti PLTN. Namun, harus diingat bahwa larangan terhadap tindakan “perampasan nasional” menjadi pilar dalam menjaga keutuhan ruang angkasa, mencegah satu negara mendominasi wilayah di luar angkasa.
Dengan kata lain, meskipun fasilitas nuklir diperbolehkan, penempatan mereka di Bulan harus tetap memperhatikan prinsip dasar perjanjian yang ada agar tidak memicu ketegangan antar negara.
3. Potensi Konflik dan Perang Antariksa
Dengan semakin banyaknya negara yang berupaya untuk menguasai wilayah Bulan, potensi terjadinya konflik menjadi sangat nyata. Bayangkan saja, suatu hari kita melihat Bulan dipenuhi pos-pos nuklir yang semua dimiliki oleh negara yang berbeda. Masing-masing pos ini bisa dijadikan basis operasi untuk menambang sumber daya langka yang ada di Bulan, seperti helium-3, yang dikenal sebagai bahan bakar potensial untuk energi fusi bersih.
Helium-3 menjadi daya tarik yang sangat besar bagi para ilmuwan dan penggiat antariksa, karena dapat memberikan sumber energi yang sangat efisien. Situasi ini pun memunculkan pertanyaan kritis: bagaimana jika PLTN sebuah negara dibangun tepat di atas daerah kaya helium-3?
Persoalan ini menjadi dilematis, karena bisa saja memicu ketegangan de facto antara negara-negara yang berusaha mengambil keuntungan dari sumber daya tersebut. Banyak penyelidikan dan analisis yang menunjukkan bahwa persaingan untuk memanfaatkan sumber daya di Bulan bisa menjadi pemicu awal perang antariksa.